Rindu (lagi) Lima Belas

Aku berdiri menghadap laut yang tak pernah selesai menghitung ombaknya. Langit pagi menggantung begitu dekat, seolah dapat kusentuh lalu kukirimkan kepadamu yang sedang belajar menjadi lebih kuat. Barangkali hanya langit yang tahu bahwa rindu memiliki warna biru yang terlalu luas untuk dipeluk sendirian.

Setiap ombak yang datang selalu membawa keyakinan bahwa segala yang pergi sedang belajar menemukan jalan pulang. Aku membiarkan angin menyebut namamu berulang-ulang, sampai bahkan laut pun mengira ia sedang memanggil seseorang yang telah lama menjadi bagian dari pasangnya.

Aku tidak meminta waktu berlari lebih cepat. Sebab jika laut sanggup menunggu pantai selama jutaan tahun tanpa mengeluh, aku pun akan menunggumu dengan cara yang sama: diam, setia, dan percaya bahwa setiap perpisahan hanyalah jalan memutar menuju pelukan yang lebih utuh.