Aku terjebak di tengah lautan lampu merah dan deru mesin yang bergerak lebih lambat daripada kenangan. Di bawah langit malam yang hitam, setiap orang tampak terburu-buru pulang, sementara aku merasa sedang berdiri diam di satu tempat yang sama: di hari ketika kau terakhir kali mengucapkan selamat jalan.
Klakson bersahutan seperti burung-burung gelisah yang kehilangan arah migrasinya. Aku memandang punggung orang-orang di sekitarku dan membayangkan masing-masing membawa rindu mereka sendiri, tersembunyi di balik helm, jaket, dan wajah yang lelah oleh perjalanan panjang.
Ketika lampu-lampu kendaraan memanjang menjadi garis-garis merah di kejauhan, aku sadar bahwa rindu tidak selalu menyerupai kesepian. Kadang ia hanya kemacetan kecil di dalam dada, membuat hati terus tertahan meski hidup sudah memberi isyarat untuk melaju.