Rindu (lagi) Satu

Aku selalu mengira rindu tinggal di rumah-rumah yang kutinggalkan, sampai suatu siang kulihat menara itu menjulang di antara pepohonan. Tingginya seperti doa yang lupa turun ke bumi.

Angin melintas di jalan lebar itu sambil membawa bayangan masa lalu. Mobil-mobil bergerak seperti tahun-tahun yang pergi tanpa menoleh, sedangkan rinduku tetap berdiri di tempat yang sama, setia seperti pohon tua yang akarnya menolak berpindah meski musim berganti berkali-kali.

Aku menatap langit yang biru dan merasa aneh: semakin jauh seseorang dariku, semakin dekat ia hidup dalam ingatan.