Aku duduk sendiri di depan sepiring nasi bungkus dan sate yang mulai dingin. Asap teh masih naik perlahan, seolah membawa kabar dari tempat jauh. Di setiap kepulan itu, aku merasa namanya melintas seperti burung yang pulang terlambat.
Malam di warung kecil ini penuh cahaya lampu dan suara kendaraan, tetapi ada satu kursi kosong yang membuat dunia terasa lebih sepi dari biasanya. Aku mengunyah perlahan, seakan-akan waktu bisa dipanjangkan sampai jarak antara kami menjadi lebih pendek.
Rindu rupanya seperti lauk yang tak pernah habis dimakan. Semakin kucoba mengenyangkannya dengan perjalanan, pekerjaan, dan secangkir teh hangat, semakin ia tumbuh diam-diam di dadaku, menunggu hari ketika istriku pulang dan malam kembali memiliki arti yang sederhana.
Malam di warung kecil ini penuh cahaya lampu dan suara kendaraan, tetapi ada satu kursi kosong yang membuat dunia terasa lebih sepi dari biasanya. Aku mengunyah perlahan, seakan-akan waktu bisa dipanjangkan sampai jarak antara kami menjadi lebih pendek.
Rindu rupanya seperti lauk yang tak pernah habis dimakan. Semakin kucoba mengenyangkannya dengan perjalanan, pekerjaan, dan secangkir teh hangat, semakin ia tumbuh diam-diam di dadaku, menunggu hari ketika istriku pulang dan malam kembali memiliki arti yang sederhana.