Rindu (lagi) Sembilan

Aku berhenti di bawah cahaya terang pompa bensin yang menggantung di tengah malam seperti bulan buatan manusia. Mobil-mobil datang dan pergi untuk mengisi tangki mereka, sementara aku berdiri diam, menyadari bahwa tidak ada tempat yang menjual bahan bakar untuk hati yang kehabisan hadirmu.

Para petugas berseragam merah bergerak pelan dalam lingkaran cahaya, seakan waktu di tempat itu berjalan lebih lambat. Aku membayangkan kau di kota lain, dan tiba-tiba seluruh malam berbau seperti koper yang belum sempat dibongkar.

Aku pulang membawa tangki yang penuh, tetapi dada yang kosong. Sebab sejak kau pergi, yang paling membutuhkan pengisian ulang bukan kendaraan ini, melainkan rinduku yang setiap malam menyala lebih lama daripada lampu-lampu yang menjaga kota tetap terjaga.