Rindu (lagi) Sepuluh

Aku mengayuh sepeda di jalan yang hampir kosong, sementara malam menggantung rendah di antara pepohonan seperti tirai tua yang enggan ditutup. Setiap garis putih di aspal kulewati perlahan, seakan itu adalah hari-hari yang memisahkanku darimu sejak kau berangkat ke Kalijati.

Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya pucat di atas setang sepedaku. Dalam kesunyian itu, aku merasa namamu sedang bersepeda di sampingku, tak terlihat, hanya sesekali menyentuh bahuku lewat angin yang datang dari arah yang tak kukenal.

Ketika sampai di perempatan yang lengang, aku sadar bahwa semua jalan malam ini sebenarnya menuju tempat yang sama: kepadamu. Namun seperti dalam dongeng-dongeng yang terlalu panjang, aku masih harus menunggu beberapa halaman lagi sebelum akhirnya bisa pulang ke pelukanmu.