Sepedaku bersandar tenang di tepi keramaian, sementara orang-orang mengayuh pulang ke rumah masing-masing. Hanya aku yang merasa malam ini tak memiliki tujuan, sebab rumahku sedang menyimpan satu ruang kosong yang kau tinggalkan.
Di bawah lampu jalan, setiap wajah tampak sebentar lalu lenyap, seperti kenangan yang lewat tanpa sempat kusapa. Aku membayangkan di tempatmu yang jauh, mungkin langit yang sama sedang menaungi langkah-langkahmu, hanya saja anginnya membawa namaku dengan cara yang lebih pelan.
Aku mengerti, rindu bukanlah jarak yang memisahkan dua kota. Rindu adalah sepeda yang terus kukayuh mengelilingi malam, berharap pada suatu tikungan waktu aku menemukanmu pulang, dengan senyum.