Lampu-lampu minyak bergoyang di atas kepala mereka, dan dalam cahaya kekuningan itu aku merasa sedang melihat wajah-wajah para leluhur yang kembali pulang hanya untuk memastikan bahwa rindu masih diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Malam itu, keraton menjulang seperti ingatan yang tak pernah selesai diceritakan. Aku mendengar gamelan yang entah benar-benar berbunyi atau hanya hidup di dalam kepalaku, lalu teringat seseorang yang pernah berjalan di sampingku. Setiap keramaian selalu menyisakan ruang kosong yang bentuknya persis seperti dirinya.
Ketika arak-arakan bergerak menjauh, aku mengerti bahwa rindu tidak selalu meminta pertemuan segera. Kadang ia hanya ingin dikenang, seperti nyala lampu yang terus bertahan di tengah malam: kecil, rapuh, namun cukup terang untuk menunjukkan jalan pulang bagi hati.
Malam itu, keraton menjulang seperti ingatan yang tak pernah selesai diceritakan. Aku mendengar gamelan yang entah benar-benar berbunyi atau hanya hidup di dalam kepalaku, lalu teringat seseorang yang pernah berjalan di sampingku. Setiap keramaian selalu menyisakan ruang kosong yang bentuknya persis seperti dirinya.
Ketika arak-arakan bergerak menjauh, aku mengerti bahwa rindu tidak selalu meminta pertemuan segera. Kadang ia hanya ingin dikenang, seperti nyala lampu yang terus bertahan di tengah malam: kecil, rapuh, namun cukup terang untuk menunjukkan jalan pulang bagi hati.