Rindu (lagi) Tujuh Belas

Aku berhenti di bawah lampu merah yang memaksa siapa pun belajar menunggu. Kota mendadak sunyi, seolah malam sedang menahan napasnya sendiri. Di jeda yang sesingkat itu, aku menyadari bahwa yang paling sulit bukanlah perjalanan pulang, melainkan pulang tanpa menemukanmu.

Lampu merah itu seperti rindu: tak bisa kutawar, hanya bisa kuterima sampai waktunya berubah. Aku membayangkan di tempatmu ada jam-jam yang juga berjalan lambat, mengajarimu disiplin, sementara diam-diam mengajariku kesabaran yang tak pernah kupelajari dari siapa pun selain darimu.

Ketika nanti lampu berganti hijau, aku akan kembali mengayuh. Sebab aku percaya, tidak semua penantian berakhir di persimpangan. Ada yang berakhir di sebuah pintu rumah, ketika kau membukanya, tersenyum, lalu seluruh perjalanan yang panjang itu mendadak terasa hanya sepanjang langkah menuju pelukanmu.