Aku mengayuh sepeda menembus malam yang panjang, seolah jalan raya itu tidak menuju kota mana pun, melainkan menuju sebuah kenangan yang lupa pulang. Lampu-lampu kendaraan berkelipan seperti kunang-kunang tua yang membawa namamu di punggungnya.
Di setiap putaran pedal, rinduku tumbuh beberapa sentimeter. Angin yang menyentuh wajahku terasa seperti pesan-pesan yang tak pernah sempat kukirim, berterbangan dari musim yang telah lama berlalu dan terus mencarimu.
Ketika Strava mencatat 27 kilometer perjalanan, aku tahu ia keliru. Sebab yang sebenarnya kutempuh malam itu bukan jarak, melainkan kerinduan yang tak pernah berhasil kuhitung, bahkan setelah satu jam empat puluh tiga menit dan seluruh langit kehabisan gelapnya.