Simpang Joglo

Pagi itu kota belum sepenuhnya terjaga. Jalanan masih lapang, langit masih bersih dari tergesa-gesa, dan aku berdiri memandangi jembatan merah yang melintang seperti garis tebal dalam sebuah kalimat panjang bernama Surakarta. Warnanya menyala di antara biru langit, seolah ingin mengingatkan bahwa sesuatu yang kokoh tak selalu harus berwarna abu-abu.

Aku selalu percaya bahwa kota memiliki caranya sendiri untuk bercerita. Ada cerita yang disimpan di gang-gang sempit, ada yang bersembunyi di warung kecil, dan ada yang berdiri terang-terangan seperti jembatan ini. Ia menghubungkan dua sisi jalan, tetapi diam-diam juga menghubungkan masa lalu dan masa depan, tempat orang-orang berangkat membawa harapan lalu pulang membawa cerita.

Aku berjalan perlahan di bawah rangka merah itu. Angin pagi berembus ringan, kendaraan melintas sesekali, dan dunia terasa belum terlalu ramai. Dalam momen sederhana seperti itu, aku sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu berada di tujuan akhir. Kadang ia hadir ketika kita berhenti sejenak, menengadah ke langit, lalu bersyukur masih diberi kesempatan melintasi jembatan-jembatan kehidupan yang belum selesai kita jelajahi.