FIFA, Tolong Tambahkan Perpanjangan Waktu untuk Para Bapak

Sebentar lagi Piala Dunia 2026 akan tamat. Barangkali begitulah nasib semua hal yang membuat manusia bahagia. Datang dengan gegap gempita, lalu pulang diam-diam, meninggalkan ruang kosong yang bahkan tak sempat kita sadari telah menjadi bagian dari hidup.

Selama sebulan terakhir, hidup kami tak lagi tunduk kepada jam dinding. Jam tidur kami diatur FIFA, entah sejak kapan, menjelma seperti kepala rumah tangga yang baru. Dialah yang menentukan kapan kami harus mengantuk, kapan kopi harus diseduh, kapan mata harus dipaksa terbuka meski ayam di kampung pun masih enggan berkokok.

Istri boleh mengingatkan agar jangan terlalu larut. Anak-anak boleh berkata besok harus bekerja. Tetapi, kalau laga dimulai pukul tiga dini hari, kami akan mengangguk kepada semuanya, lalu diam-diam memasang alarm.

Beginilah barangkali tabiat bapak-bapak.

Kami bukan lagi pemburu petualangan. Dunia kami kini tak lebih luas daripada ruang tamu, secangkir kopi, bantal yang letaknya selalu berubah sendiri, dan televisi yang setia menyala hingga pagi.

Lucunya, kami menikmatinya.

Ada kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan ketika mendengar peluit pertama dibunyikan. Rasanya seperti bertemu kawan lama yang hanya datang empat tahun sekali. Kami hafal lagu kebangsaannya, hafal wajah para pemainnya, bahkan hafal cara komentator mengucapkan nama yang sulit dieja.

Padahal mereka tak mengenal kami. Namun begitulah sepak bola.

Ia memiliki kemampuan aneh untuk membuat jutaan orang merasa duduk di ruang tamu yang sama.

Di rumah-rumah sederhana, di warung kopi pinggir jalan, di pos ronda yang catnya mulai mengelupas, sampai di ruang keluarga yang lampunya sengaja diredupkan agar anak-anak tetap terlelap, bola yang sama sedang bergulir, dan jantung yang sama sedang berdebar.

Kini, ketika turnamen hampir selesai, diam-diam kami mulai gelisah. Bukan karena takut tim jagoan kalah. Kami lebih takut kepada malam-malam yang kembali lengang.

Takut membuka televisi lalu mendapati hanya sinetron yang saling berteriak atau acara yang membuat kami menguap sebelum sepuluh menit.

Takut menyeduh kopi tanpa ada pertandingan yang menunggu. Takut bangun terlalu pagi, lalu bingung kepada siapa mata yang belum mengantuk ini harus diserahkan.

Mungkin beginilah cara usia bekerja. Semakin dewasa, semakin sedikit alasan untuk merasa berdebar.

Karena itu, ketika Piala Dunia datang, kami menerimanya seperti menerima tamu jauh yang membawa banyak cerita. Ia membuat malam-malam yang biasa saja menjadi penuh harapan. Ia membuat ruang tamu terasa seperti tribun stadion. Bahkan kipas angin yang berputar pelan pun seolah ikut bersorak setiap kali bola menghantam jala.

Lalu, seperti semua tamu yang baik, ia tahu kapan harus pamit. Dan kami tahu, setelah peluit panjang final dibunyikan, hidup akan kembali berjalan seperti biasa.

Alarm kembali disetel untuk pekerjaan. Kopi kembali hanya menjadi teman mengantuk. Televisi kembali sekadar benda elektronik.

Tetapi ada satu hal yang mungkin akan tetap tinggal. Kenangan bahwa selama sebulan, kami pernah merasa muda lagi. Masih sanggup begadang. Masih bisa berteriak sendirian ketika gol tercipta.

Masih percaya bahwa sembilan puluh menit sepak bola mampu membuat segala penat hidup menepi barang sejenak.

Terima kasih, FIFA.

Tim favoritku di Piala Dunia 2026? Banyak sekali.

Bagiku, ukuran kesetiaan di Piala Dunia tak selalu ditentukan oleh warna bendera. Ada ukuran lain yang lebih personal: selama masih ada pemain Arsenal yang berlari di lapangan, selama itu pula aku punya alasan untuk mendukung sebuah tim.

Karena itu, setiap pertandingan selalu terasa memiliki kepentingan. Ada yang kutunggu umpannya, ada yang kuharapkan golnya, ada pula yang kudoakan agar pulang tanpa cedera. Barangkali beginilah nasib menjadi pendukung Arsenal. Ketika kompetisi antarnegara berlangsung, hatiku ikut berpindah-pindah mengikuti ke mana para pemain Meriam London itu berlabuh.

Di semifinal, hanya satu tim yang tak berhasil mencuri simpatiku: Argentina.

Di antara empat semifinalis, hanya Argentina yang tak diperkuat pemain Arsenal.

Kalaupun ada yang bertanya detail mengapa aku tidak mendukung Argentina, jawabannya terlalu panjang untuk dituliskan di sini. Sudah kutuangkan dalam sebuah catatan yang lebih lengkap: “Dekonstruksi Rasionalitas Penolakan terhadap Argentina.”

Silakan membacanya, tapi jangan dibuka kalau kamu fans Argentina:

https://www.sastra.xyz/2026/07/dekonstruksi-rasionalitas-penolakan.html