Rindu (lagi) Dua Puluh Dua

Di halaman Museum Radya Pustaka, matahari jatuh ke batu-batu tua dengan kesabaran seorang penjaga waktu. Orang-orang datang untuk mencari jejak masa silam, sementara aku diam-diam mencari masa depan yang hanya memiliki satu wajah: wajahmu, jauh dari kota yang biasa kita bagi bersama.

Konon buku-buku menyimpan kenangan agar tidak lekas hilang. Namun aku tahu ada kenangan yang lebih keras kepala daripada tinta: caramu menyebut namaku, caramu membuat siang yang biasa menjadi alasan untuk segera pulang. Sejak kau pergi, bahkan langit Surakarta yang begitu biru pun terasa seperti halaman kosong yang lupa ditulisi.

Mungkin itulah sebabnya aku terus berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan karena kota ini kurang indah, melainkan karena keindahan selalu terasa setengah jadi ketika orang yang ingin kuajak mengaguminya sedang berada di kota lain, mempersiapkan diri untuk pulang dengan cerita-cerita baru.