Aku mengayuh sepeda menyusuri jalan yang dipayungi pepohonan, tetapi bayang-bayang yang mengikutiku bukan milikku. Ia adalah bayanganmu, yang sejak kau berangkat, memilih tinggal di setiap tikungan yang pernah kita lewati bersama.
Pagi ini angin berembus pelan, seolah membawa kabar dari tempat yang tak mampu dijangkau oleh langkahku. Setiap putaran roda terasa seperti menghitung hari menuju kepulanganmu, sementara rinduku tumbuh setenang akar-akar pohon yang diam-diam memeluk bumi tanpa pernah terlihat.
Aku terus mengayuh, sebab berhenti hanya akan membuat sunyi mengejarku lebih cepat. Barangkali begitulah cinta bekerja, ia tidak memendekkan jarak, tetapi mengajarkan hati untuk tetap berjalan sampai akhirnya namamu kembali terdengar di dalam rumah.
Pagi ini angin berembus pelan, seolah membawa kabar dari tempat yang tak mampu dijangkau oleh langkahku. Setiap putaran roda terasa seperti menghitung hari menuju kepulanganmu, sementara rinduku tumbuh setenang akar-akar pohon yang diam-diam memeluk bumi tanpa pernah terlihat.
Aku terus mengayuh, sebab berhenti hanya akan membuat sunyi mengejarku lebih cepat. Barangkali begitulah cinta bekerja, ia tidak memendekkan jarak, tetapi mengajarkan hati untuk tetap berjalan sampai akhirnya namamu kembali terdengar di dalam rumah.