Rindu (lagi) Dua Puluh Enam

Aku sering berhenti di depan rumah lebih lama daripada yang diperlukan, seolah-olah pagar itu tahu bahwa seseorang sedang tidak pulang. Lampu-lampu teras menyala dengan kesabaran, sementara angin malam berkali-kali mencoba membisikkan namamu dari arah yang tak bisa kutuju. Sejak kau berangkat, rumah ini belajar menjadi sunyi tanpa pernah mengeluh.

Di balik pintu itu masih ada cangkir yang terakhir kau gunakan, masih ada bantal yang menyimpan bentuk kepalamu, dan masih ada waktu yang setiap malam berjalan lebih lambat daripada biasanya. Kadang-kadang aku merasa rumah ini sengaja menahan detik-detiknya, berharap langkahmu terdengar lebih dulu daripada bunyi jam yang terus berputar.

Aku akhirnya pulang setiap malam dengan keyakinan yang aneh, bahwa rindu bukanlah sesuatu yang harus disembuhkan, melainkan dipelihara sampai kau kembali membukakan pintu itu. Sebab aku percaya, tidak ada rumah yang benar-benar lengkap sebelum ada seseorang yang pulang untuk mengisinya dengan senyum.