Ada sebuah jendela kecil tergantung sendirian di dinding, seolah rumah itu sengaja menyisakan satu lubang agar rinduku bisa keluar mencarimu. Setiap kali aku melewatinya, aku membayangkan angin yang singgah di sana akan terus berjalan hingga menemukanmu, lalu membisikkan bahwa aku masih menunggumu.
Orang-orang menyebutnya sekadar hiasan, tetapi aku tahu benda-benda sering menyimpan kehidupan yang tidak dipercaya manusia. Jendela itu setiap pagi membuka dirinya ke arah yang tak terlihat, dan setiap sore kembali tertutup karena belum berhasil membawamu pulang. Sejak kau pergi, bahkan dinding pun belajar menunggu.
Maka aku membiarkannya tetap di sana, kecil, sunyi, dan setia. Sebab tidak semua jalan pulang berbentuk pintu. Ada yang hanya berupa sebuah jendela, tempat harapan duduk diam hingga suatu hari melihatmu datang, membawa kembali suara yang selama ini hilang dari rumah.