Di kamar yang dindingnya lebih pandai menyimpan gema daripada suara, televisi menyalakan pesta yang tak pernah singgah ke dalam dadaku. Asap kembang api di stadion memenuhi layar, tetapi yang memenuhi pikiranku hanya bayanganmu.
Aku baru mengerti bahwa sepi bukanlah ketika rumah ditinggalkan seseorang. Sepi adalah ketika ada begitu banyak suara, tetapi tak satu pun mampu menggantikan percakapan sederhana yang biasa kita miliki sebelum malam mematikan lampu.
Karena itu aku membiarkan pertandingan terus berlangsung tanpa benar-benar kutonton. Aku sedang menunggu pertandingan yang lain: saat jarak akhirnya menyerah, dan pintu itu terbuka untuk mempertemukan kembali aku dengan perempuan yang selama ini membuat rumah sekecil ini terasa seluas dunia.