Rindu (lagi) Dua Puluh Tiga

Kubuka halaman demi halaman, tetapi yang benar-benar kubaca bukan kisah perang itu. Di sela huruf-huruf yang berbaris rapi, selalu ada wajahmu, seolah setiap kalimat diam-diam mengetahui bahwa kau sedang di tempat yang tak bisa kujangkau.

Rasanya aneh, dunia terus bergerak seperti biasa, sementara waktu di rumah berhenti tepat pada hari kau berangkat. Sejak itu, bahkan buku pun belajar menjadi pembawa kabar, menyelipkan namamu pada setiap cerita yang kutamatkan.

Aku menutup buku dengan pelan, sebab ada rindu yang mudah terbangun oleh suara sekecil apa pun. Barangkali itulah sebabnya malam-malam terasa lebih panjang, agar rinduku punya cukup waktu berjalan mencarimu sebelum fajar membawamu pulang.