Di bawah langit yang menggantungkan malam seperti kain hitam tua, aku berdiri di antara orang-orang yang masih mampu tertawa setelah mengayuh puluhan kilometer. Hanya aku yang diam-diam membawa jarak yang lebih jauh, jarak antara kota ini dan tempatmu. Mereka mengayuh untuk menjaga tubuh tetap kuat, sedangkan aku mengayuh agar rinduku tidak menjelma menjadi sepi yang terlalu berat.
Kadang aku merasa setiap lampu sepeda yang menyala di hadapanku adalah surat-surat kecil yang gagal menemukan alamatmu. Angin malam berulang kali menyentuh wajahku dengan kelembutan yang sama seperti telapak tanganmu, lalu pergi sebelum sempat kutanyakan kapan ia akan membawamu pulang.
Maka aku terus mengayuh, sebab hanya roda yang mengerti bahwa rindu tidak pernah meminta jalan pintas. Ia hanya ingin tetap bergerak, sampai suatu malam aku menemukanmu kembali, berdiri di garis akhir, membawa pulang seluruh rumah yang selama ini ikut pergi bersamamu.