Di balik lingkar kemudi, malam selalu tampak seperti negeri yang lupa menutup matanya. Lampu-lampu jalan mengapung di kejauhan seperti kunang-kunang yang tersesat, sementara aku mengemudi perlahan, seolah setiap kilometer adalah cara lain untuk mendekat kepadamu.
Aku membayangkan, pada jam yang sama, mungkin kau juga sedang memandang langit dari tempat yang berbeda. Rindu ternyata bekerja seperti mesin yang paling setia: ia tak pernah padam, hanya berdetak pelan di sela-sela keheningan, mengubah setiap perjalanan pulang menjadi percakapan yang tak sempat kita ucapkan.
Maka malam ini kubiarkan jalan membawa tubuhku, sementara hatiku sudah lebih dulu tiba di sisimu. Sebab ada cinta yang tidak membutuhkan alamat; ia selalu menemukan rumahnya, bahkan ketika kita dipisahkan oleh tugas, waktu, dan jarak yang panjang.