Rindu (lagi) Empat Puluh Dua

Aku tiba di gerbang kota ketika langit sedang melupakan warna birunya. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu, seolah ada tangan tak terlihat yang menyalakan harapan bagi orang-orang yang sedang pulang. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan, hanya rinduku yang tetap berjalan pelan, sebab ia memilih menunggumu daripada tergesa mengejar malam.

Sejak kau pergi, setiap jalan yang kulewati seperti kehilangan satu arah. Aku baru mengerti bahwa rumah bukanlah tempat yang kutuju, melainkan seseorang yang biasanya menyambutku di ujung perjalanan. Maka senja ini hanya menjadi gerbang lain yang kulewati sendirian, sambil percaya bahwa setiap perpisahan yang dijalani dengan ikhlas selalu sedang membangun jalan menuju pertemuan.

Kelak, ketika kau kembali, mungkin jalan ini tidak akan berubah sedikit pun. Truk-truk masih melintas, lampu masih menyala, dan langit masih akan menua setiap sore. Namun aku tahu, dunia yang sama akan terasa berbeda, sebab ada rindu yang akhirnya menemukan alamat pulangnya.