Aku mengayuh pelan di jalan yang dinaungi pepohonan, sementara sore menjatuhkan cahaya terakhirnya seperti doa yang diucapkan tanpa suara. Setiap putaran roda terasa seolah sedang mengukur jarak yang memisahkan aku darimu.
Pepohonan di sepanjang jalan itu tampak seperti para penjaga tua yang mengetahui rahasia setiap orang yang pernah menunggu. Mereka diam, tetapi dedaunannya berbisik bahwa tidak ada perjalanan pulang yang sia-sia jika di ujungnya ada seseorang yang sedang diperjuangkan. Aku pun terus mengayuh, seakan-akan setiap kayuhan adalah surat yang dikirimkan kepadamu tanpa perangko.
Aku percaya, suatu hari nanti kita akan melewati jalan ini bersama lagi. Kau akan tertawa melihat betapa aku pernah berbicara dengan senja dan pepohonan hanya agar rinduku tidak merasa sendirian. Dan jalan yang hari ini terasa panjang akan berubah menjadi kenangan pendek yang kita ceritakan sambil tersenyum.