Rindu (lagi) Empat Puluh Satu

Senja selalu tampak seperti akhir hari, padahal ia sesungguhnya adalah cara bumi mengajarkan bahwa setiap perpisahan memiliki arah pulang.

Manusia bertahan bukan karena selalu bersama, melainkan karena mampu memberi makna pada jarak. Rindu bukanlah kegagalan cinta mengatasi ruang, melainkan bukti bahwa otak dan hati kita telah berevolusi untuk tetap terhubung, bahkan ketika tubuh dipisahkan oleh tugas dan tanggung jawab.

Maka setiap kayuhan sore ini bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan ritual kecil untuk menaklukkan waktu. Sebab aku tahu, sebagaimana matahari selalu kembali setelah tenggelam, akan tiba hari ketika kami kembali menempuh jalan yang sama, dan senja ini hanya akan menjadi satu bab singkat dalam sejarah panjang tentang dua orang yang memilih saling menunggu.