Rindu (lagi) Empat Puluh Tiga

Aku mendongak ke langit-langit joglo itu, dan untuk sesaat merasa waktu sedang bertumpu pada tiang-tiang kayu yang telah lebih tua daripada banyak kenangan manusia. Ada sesuatu yang menenangkan dari bangunan yang tetap berdiri, meski generasi datang silih berganti. Seperti cinta, ia tidak selalu membutuhkan suara untuk membuktikan dirinya.

Di bawah atap yang tinggi itu, aku diam-diam menyebut namamu dalam hati. Kau sedang berada di jauh, sementara aku belajar bahwa rindu adalah bentuk kesabaran yang paling sunyi. Ia tidak menuntut agar jarak segera berakhir; ia hanya meminta agar hati tetap setia pada arah pulang.

Barangkali rumah tidak pernah benar-benar dibangun oleh kayu, batu, atau genting. Rumah lahir dari seseorang yang membuat setiap langkah pulang terasa layak diperjuangkan. Maka ketika kelak kau kembali, aku ingin membawa kita ke tempat seperti ini lagi, agar tiang-tiang tua itu menjadi saksi bahwa ada cinta yang sanggup bertahan lebih lama daripada waktu.