Setiap senja mengingatkanku bahwa manusia selalu menciptakan cara untuk mengukur jarak, kilometer, jam, atau kalender. Namun tidak satu pun mampu mengukur rindu. Sambil mengayuh sepeda di bawah langit yang perlahan menelan matahari, aku sadar bahwa yang paling berat bukanlah perjalanan pulang, melainkan menunggu istriku, sebab waktu selalu berjalan lebih lambat bagi mereka yang sedang menanti.
Barangkali sejak nenek moyang pertama meninggalkan api unggun untuk berburu, cinta memang selalu diuji oleh perpisahan yang dianggap perlu demi masa depan.
Kita membangun negara, institusi, bahkan pertahanan, karena percaya ada sesuatu yang layak dijaga. Dan bagiku, di balik semua alasan besar itu, ada satu alasan yang paling sederhana: agar suatu hari nanti aku bisa kembali mengayuh sepeda ini bersamanya, menyusuri jalan yang sama tanpa menghitung berapa lama kami pernah dipisahkan.