Rindu (lagi) Sembilan Belas

Malam selalu tahu cara menyembunyikan kerinduan di balik cahaya lampu jalan. Kukayuh sepeda perlahan, seolah setiap putaran roda sedang menghitung hari hingga kau pulang. Kota tetap bergerak, hanya waktuku yang memilih tinggal bersamamu.

Di jalan-jalan yang lengang ini, bayanganmu sesekali melintas lebih nyata daripada rumah-rumah yang kulewati. Angin membawa namamu seperti doa yang lupa selesai diucapkan, lalu meletakkannya diam-diam di dadaku.

Aku terus mengayuh, sebab aku percaya setiap perjalanan memiliki arah pulang. Dan ketika kau kembali nanti, mungkin jalan ini akan tetap sama, tetapi malam tak lagi terasa sepanjang rinduku kepadamu.