Rindu (lagi) Tiga Puluh Delapan

Lampu merah selalu lebih lama bagi orang yang sedang menunggu. Di bawah langit yang hitam, deretan sepeda motor diam seperti kawanan burung yang lupa cara terbang, sementara aku memandangi menara di kejauhan yang berdiri tegak seolah sedang menghitung berapa banyak hati yang tertahan oleh jarak malam ini.

Aku membayangkan engkau, juga sedang berhenti di sebuah persimpangan yang tak kukenal. Barangkali bulan yang sama mengawasi kita dari dua langit yang berbeda, menyimpan rinduku di balik cahayanya agar tidak jatuh sebelum waktunya. Sejak kau pergi, bahkan lampu merah terasa memiliki belas kasihan, memberiku beberapa detik lagi untuk mengingat wajahmu.

Ketika lampu itu akhirnya berubah hijau, semua orang bergegas melaju. Hanya rinduku yang tetap tinggal sesaat di tempat ini, melambaikan tangan kepada malam, seolah percaya bahwa setiap perjalanan, betapapun jauh, diam-diam sedang menuntunmu pulang kepadaku.