Di Proliman Sukoharjo, lampu-lampu merah bergantung seperti doa-doa yang sengaja ditunda langit. Aku berdiri diam di tengah kota, sementara rinduku diam-diam menyeberang ke tempatmu.
Monumen itu menjulang seolah sedang menjaga janji. Aku membayangkan ia akan tetap berdiri sampai hari kau pulang, menjadi saksi bahwa ada seorang lelaki yang setiap pagi melewati jalan yang sama hanya untuk memastikan hatinya tidak tersesat terlalu jauh dari perempuan yang dicintainya.
Maka aku membiarkan waktu berhenti sejenak di lampu kuning ini. Sebab aku tahu, tak ada penantian yang sia-sia jika di ujungnya ada kau, pulang dengan langkah yang lebih tegap, lalu mengembalikan seluruh rumah kepada napasnya.