Rindu (lagi) Tiga Puluh Enam

Di panggung itu, keroncong tidak terdengar sebagai musik, melainkan sebagai cara waktu mengingat orang-orang yang sedang saling menunggu. Aku duduk memandangi siluet penyanyi yang hitam di depan cahaya biru, lalu tiba-tiba sadar bahwa bayangan juga bisa memiliki suara: suaramu yang kini jauh, tenggelam di sela-sela hari.

Aku membayangkan setiap petikan cak dan cuk menempuh perjalanan panjang mencarimu. Barangkali malam telah bersekutu dengan nada-nada tua itu agar sampai ke telingamu, sebab rindu selalu lebih pandai menemukan alamat daripada surat mana pun yang pernah ditulis manusia.

Maka kubiarkan keroncong menyanyikan apa yang tak sanggup kuucapkan. Ketika kau kembali nanti, aku percaya lagu ini masih menunggu di udara, belum selesai, karena ia tahu ada sepasang hati yang hanya bisa benar-benar menjadi irama saat kembali saling mendengar.