Di tengah lautan kepala yang bergoyang mengikuti musik, aku justru mendengar namamu lebih nyaring daripada dentuman drum. Malam seolah meminjam wajahmu untuk setiap cahaya yang jatuh dari panggung, lalu mengembalikannya kepadaku sebagai rindu yang tak bisa kusentuh.
Aku membayangkan, di tempatmu, langit juga sedang memelihara malam yang sama. Mungkin angin yang melewati wajahku telah lebih dulu singgah di sisimu, membawa kabar bahwa ada seseorang yang terus pulang kepadamu, meski tubuhnya masih berdiri di antara keramaian.
Konser ini akhirnya usai, tetapi rinduku tidak mengenal aba-aba untuk bubar. Ia tetap bernyanyi pelan di dalam dada, sampai hari ketika kau pulang, dan seluruh dunia kembali terdengar seperti rumah.