Rindu (lagi) Tiga Puluh Satu

Aku berhenti di lampu merah, dan untuk pertama kalinya jalan yang kosong terasa lebih panjang daripada perjalanan pulang. Seolah seluruh kota sedang menunggu seseorang, sementara aku menjadi tabah.

Di balik cahaya senja yang memudar, aku membayangkan kau sedang disana. Barangkali angin yang menyentuh wajahku pernah lebih dulu singgah di pundakmu, membawa pulang sedikit kabar yang tak sempat kau kirimkan.

Ketika lampu berubah hijau, semua kendaraan kembali bergerak. Hanya rinduku yang tetap memilih berhenti, setia menunggumu pulang dengan senyum dan pelukan yang selama ini hanya hidup di dalam doa.