Lampu merah menahan semua kendaraan, tetapi tidak pernah berhasil menahan rindu. Di bawah langit yang perlahan berubah menjadi beludru, aku berdiri di antara deru mesin dan wajah-wajah yang ingin lekas sampai, sementara bayanganmu berjalan pelan melintasi pikiranku, seakan baru saja turun dari senja yang enggan benar-benar padam. Kota ini tahu namamu, sebab setiap malam ia menyebutnya dengan bahasa lampu-lampu yang bergetar.
Barangkali, kau sedang belajar memanggul tanggung jawab yang lebih besar daripada tubuhmu sendiri. Sedangkan aku belajar bahwa kesetiaan memiliki bunyi yang sunyi, seperti detik-detik menunggu lampu berubah hijau. Jarak bukan lagi ukuran kilometer, melainkan burung-burung tak kasatmata yang setiap malam membawa separuh mimpiku untuk tidur di dekatmu.
Ketika cahaya hijau akhirnya menyala dan orang-orang melaju meninggalkan persimpangan, aku sadar hanya aku yang masih tertinggal. Sebab ada bagian dari diriku yang memilih menetap di lampu merah itu, percaya bahwa setiap penantian yang cukup panjang akan berubah menjadi jalan pulang, dan di ujung jalan itu kau akan datang dengan senyum yang membuat seluruh kota lupa bahwa kita pernah dipisahkan oleh waktu.