Rindu (lagi) Tiga Puluh Tiga

Baluwarti mengajarkanku bahwa rindu tidak selalu membutuhkan tujuan. Ia cukup berjalan di antara dinding-dinding tua, memungut gema langkahku, lalu menyimpannya sampai hari kau kembali.

Lampu-lampu kecil di sepanjang tembok menyala seperti doa yang lupa dipadamkan. Aku percaya, salah satunya pasti menemukanmu di kejauhan, menyelinap ke sela kesibukan, lalu berbisik bahwa ada seseorang yang setiap malam masih memanggil namamu dalam diam.

Aku pun terus berjalan, sebab berhenti hanya membuat sunyi semakin pandai berbicara. Dan di setiap langkah, aku merasa sedang mendekat kepadamu, meski dunia berkata kita masih dipisahkan oleh jarak dan waktu.