Senja selalu datang seperti kabar yang sengaja diperlambat agar hati sempat bersiap kehilangan. Langit menumpahkan cahaya terakhirnya di sela-sela pepohonan, sementara roda sepedaku mengukur jalan yang perlahan diselimuti malam. Pada jam-jam seperti ini, kota seakan lupa membedakan antara pulang dan menunggu, dan aku menjadi satu-satunya saksi bahwa cahaya pun dapat merasa enggan meninggalkan bumi.
Setiap kayuhan membuatku percaya bahwa rindu memiliki caranya sendiri untuk berpindah tempat. Engkau yang kini jauh terasa lebih dekat daripada rumah-rumah yang kulewati. Angin membawa namamu dari balik dedaunan, dan pepohonan mengangguk pelan seolah mereka telah lama menyimpan rahasia bahwa cinta selalu menemukan jalan pulang, meski tubuh-tubuhnya dipisahkan jarak.
Aku terus mengayuh hingga senja larut menjadi malam, tetapi warna jingga itu tidak benar-benar hilang. Ia menetap diam di dalam dadaku, menjelma harapan yang sabar menunggumu kembali. Sebab sejak kau berangkat, setiap perjalanan bukan lagi tentang ke mana aku pergi, melainkan tentang seberapa dekat aku dengan hari ketika kau pulang.