Aku terus mengayuh, mengikuti papan-papan penunjuk arah, seolah setiap nama kota diam-diam menyimpan jalan menuju tempatmu. Padahal aku tahu, tak ada rambu yang mengarah ke seseorang.
Angin pagi berkali-kali menyebut namamu. Ia melewati lenganku, stang sepeda, lalu pergi ke langit, seakan membawa kabar yang tak pernah sempat kukirim kepadamu di tempat yang jauh itu.
Mungkin rindu memang bukan perkara jarak. Ia hanya perjalanan yang tak pernah selesai, membuatku terus mengayuh, sementara hatiku telah lebih dulu tiba di sisimu.