Berangkat Sekolah

Mobil melaju menembus cahaya pagi yang begitu terang hingga atap-atap di kejauhan tampak seperti kapal-kapal yang terdampar dari abad yang sudah dilupakan, dan kabel-kabel listrik tergantung di langit seperti jahitan yang menyatukan satu hari dengan hari berikutnya. 

Di kursi samping, terbungkus jilbab hijau lembut yang menudungi kepalanya bagai kelopak bunga mekar terbalik, anakku menoleh padaku dengan mata yang menyimpan kesabaran orang-orang tua, seolah ia sudah menempuh perjalanan ini seribu kali sebelum aku sempat mengajaknya.

Di sampingnya, sebuah tas kecil warna merah muda terjepit setia di antara tubuhnya dan sandaran kursi, menunggu tanpa pernah mengeluh. Senyum yang disunggingkan Iliana bukanlah senyum anak yang minta sesuatu, melainkan senyum seseorang yang sudah tahu ke mana kami akan pergi, sementara aku sendiri, yang memegang kemudi, masih ragu apakah jalan itu membawa kami pulang atau menjauh.

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku sudah lupa nama jalan yang kami lalui pagi itu, aku akan tetap mengingat cara ia menoleh: setengah badan menghadap depan, setengah lagi memastikan bapaknya tak lupa bahwa dialah alasan mobil ini bergerak ke mana pun juga.