Bunga Kecil

Aku memungut bunga itu di tengah jalan, entah mengapa rasanya seperti menemukan sesuatu yang sengaja dijatuhkan langit untukku. Di belakangnya, kendaraan berlalu-lalang dengan tergesa, orang-orang sibuk mengejar tujuan masing-masing. Aku justru berhenti, memegang bunga kecil itu, seolah dunia tiba-tiba memberiku alasan untuk tidak terburu-buru.

Bunga itu berwarna pucat, kelopaknya keriting seperti rambut seorang nenek yang baru bangun tidur. Ia sederhana sekali, tetapi entah bagaimana mampu membuat jalan yang bising terasa sedikit lebih sunyi. Aku memandangnya lama-lama dan berpikir, mungkin begitulah kebahagiaan, kecil, sebentar, sering terabaikan, tetapi ketika kita mau berhenti, ia ternyata ada di depan mata.

Lalu aku berjalan lagi sambil membawa bunga itu. Kota tetap sibuk, kendaraan tetap melintas, dan manusia tetap mengejar sesuatu yang mungkin tak pernah benar-benar mereka temukan. Aku sendiri tak tahu akan membawa bunga itu ke mana. Tapi untuk sore itu, setidaknya aku tahu satu hal: aku pernah berhenti di tengah keramaian hanya untuk menghargai sesuatu yang hampir tak dianggap siapa-siapa.