Cilok Lagi, Cilok Lagi

Aku menggenggam sebutir cilok di ujung tusukannya, sementara senja perlahan menurunkan warna dari langit. Di belakangnya, kendaraan berlalu seperti orang-orang yang selalu punya tujuan, sedangkan aku hanya ingin berhenti sebentar.

Cilok itu sederhana, bulat, hangat, dan mungkin sebentar lagi habis. Tetapi sore itu aku merasa sedang memegang sesuatu yang lebih tua daripada lapar, sebuah kenangan kecil tentang jalanan, masa kanak-kanak, dan kebahagiaan yang tidak pernah meminta banyak.

Aku menggigitnya, lalu tersenyum. Ternyata hidup tidak selalu membutuhkan peristiwa besar untuk dikenang. Kadang, cukup sebutir cilok dan sebuah senja yang kebetulan sedang baik hati.