Di Atas Sepeda

Aku mengayuh sepeda menyusuri jalan yang mulai diselimuti senja. Aspal hitam mengilap seperti baru saja dicuci langit, sementara matahari menumpahkan warna keemasan di antara pepohonan dan kabel-kabel listrik yang kusut. Entah mengapa, perjalanan pulang sore itu terasa seperti perjalanan menuju sesuatu yang pernah kutinggalkan.

Di depan sana, orang-orang berjalan santai, lampu warung mulai menyala, dan sebuah mobil datang dengan sorot lampu yang membuatku menyipitkan mata. Aku membunyikan bel sepeda, seolah-olah bunyi kecil itu mampu memberitahu dunia bahwa aku masih ada. Padahal, dunia barangkali tak pernah benar-benar peduli siapa yang mengayuh sepeda di jalan itu.

Aku terus melaju. Angin sore menyentuh wajahku, membawa bau pepohonan, asap kendaraan, dan sedikit aroma makanan dari warung di ujung jalan. Saat itulah aku sadar, mungkin bahagia memang tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Kadang ia hanya sebuah sepeda, jalan yang tenang, matahari yang hampir tenggelam, dan kesempatan untuk pulang.