Di antara uang-uang lama dan gambar wayang yang menyimpan umur, aku melihat ibuku berdiri seperti seseorang yang telah mengenal waktu sebelum waktu mengenalnya. Ia tidak sedang melihat masa lalu, melainkan seolah sedang memastikan bahwa aku masih menjadi anak yang dahulu ia panggil dalam doanya.
Aku teringat bagaimana ia selalu menyebut namaku kepada Tuhan, bahkan ketika aku tidak tahu bahwa namaku sedang berada di sana. Barangkali itulah sebabnya aku selalu merasa ada sesuatu yang menjaga langkahku.
Hari itu, di hadapan sejarah yang dibingkai dan uang yang telah kehilangan nilainya, aku tahu satu hal yang tidak pernah berubah: ia adalah ibuku. Dan ketika dalam hati kupanggil namanya dengan getar, seluruh dunia terasa sebentar berhenti, seolah Tuhan sendiri sedang mendengarkan seorang anak menyebut perempuan yang paling dicintainya.
Aku teringat bagaimana ia selalu menyebut namaku kepada Tuhan, bahkan ketika aku tidak tahu bahwa namaku sedang berada di sana. Barangkali itulah sebabnya aku selalu merasa ada sesuatu yang menjaga langkahku.
Hari itu, di hadapan sejarah yang dibingkai dan uang yang telah kehilangan nilainya, aku tahu satu hal yang tidak pernah berubah: ia adalah ibuku. Dan ketika dalam hati kupanggil namanya dengan getar, seluruh dunia terasa sebentar berhenti, seolah Tuhan sendiri sedang mendengarkan seorang anak menyebut perempuan yang paling dicintainya.