Ketika Iliana Tersenyum

Iliana tersenyum kepadaku seolah-olah baru saja menemukan rahasia terbesar di dunia. Gigi-giginya yang belum lengkap itu membuat senyumnya tampak seperti rumah kecil yang pintunya terbuka lebar. Aku menatapnya dan tiba-tiba merasa, barangkali begitulah kebahagiaan seharusnya: sederhana, tanpa perlu alasan.

Rambutnya berantakan, bajunya sederhana, dan tangannya masih sibuk dengan dunianya sendiri. Tetapi bagiku, Iliana selalu datang dengan membawa sesuatu yang tak bisa dibeli di mana pun: alasan untuk pulang dengan hati yang lebih ringan.

Aku memotretnya bukan karena takut melupakan wajah itu. Aku memotretnya karena suatu hari nanti, ketika Iliana sudah tumbuh dan dunia mulai meminta terlalu banyak darinya, aku ingin menunjukkan foto ini sambil berkata, “Nduk, pernah ada masa ketika senyummu saja sudah cukup membuat Bapak merasa menjadi orang paling beruntung di dunia.”