Lampu Merah

Di bawah awan yang menahan seabad hujan, aku terdiam di persimpangan tempat waktu telah lama mati. Lampu lalu lintas menatapku dengan mata merahnya yang membawa kutukan, mengulangi takdir penantian yang sama setiap senja.

Aku terperangkap bersama lautan manusia berhelm, menatap kosong pada papan reklame di seberang yang menjajakan kebahagiaan yang takkan pernah tiba. Di atas aspal dingin ini, janji seorang kekasih untuk kembali tepat saat lampu berubah hijau justru terasa lebih nyata dari nafasku sendiri.

Aku akan selamanya berada di sini, di bawah satu-satunya lampu jalan yang menyala bak mercusuar bagi jiwa-jiwa yang karam. Aku menunggu dalam kesunyian abadi, karena cahaya merah ini adalah dinding waktu yang tak bisa ditembus antara masa lalu dan masa depan.