Makan Ubi

Aku melihatnya menggenggam ubi seperti seseorang menggenggam rahasia yang terlalu manis untuk diceritakan. Di dalam mobil yang bergerak pelan, ia menatapku dengan mata yang seolah baru saja menemukan bahwa dunia ternyata penuh rasa.

Selimut kecil menutupi kakinya, sementara sebuah anggur hijau terbaring di telapak tangannya seperti bulan yang tersesat. Aku berpikir, mungkin kebahagiaan memang selalu datang dalam bentuk yang sederhana.

Hari itu kami terus berjalan, dan ia terus memakan Ubinya. Kelak, ketika ia sudah besar dan lupa pada perjalanan ini, aku akan mengingatnya untuk kami berdua: seorang anak kecil, sebuah mobil, dan siang yang terasa tidak pernah berakhir.