Aku duduk berhadapan dengan Nana dan Iliana, di antara dua mangkuk ramen yang mengepulkan kehangatan. Nana sibuk dengan dunianya sendiri, sementara Iliana mengaduk minumannya dengan kesungguhan seorang anak yang percaya bahwa setiap gelas menyimpan rahasia.
Di luar, malam terus bergerak, tetapi di meja kecil ini waktu seperti lupa caranya pergi. Aku memandangi mereka dan merasa bahwa kebahagiaan kadang hanya membutuhkan semangkuk makanan, percakapan yang tidak selesai, dan dua orang yang membuatku ingin tinggal lebih lama.
Kelak mungkin kami akan lupa rasa ramen malam itu. Namun aku yakin, ada sesuatu yang akan tetap tinggal: cahaya lampu di atas meja, tangan kecil Iliana yang memegang sedotan, dan Nana yang duduk di hadapanku, sebuah keluarga kecil yang, tanpa kami sadari, sedang membuat kenangan.