Mengenal Dayeuhluhur, Budaya Sunda di Ujung Jawa Tengah dan Sakralnya Tradisi Rebo Wekasan

Secara administratif, Kecamatan Dayeuhluhur berada di bawah naungan Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Namun, jika kita berkunjung ke sana, kita akan merasakan atmosfer yang sangat berbeda dari wilayah Jawa Tengah pada umumnya. Alih-alih disapa dengan bahasa Ngapak yang menjadi ciri khas Cilacap, kita justru akan disambut dengan bahasa Sunda yang kental.

Perpaduan unik antara letak geografis dan akar budaya ini menjadikan Dayeuhluhur sebuah anomali budaya yang memikat, terutama ketika masyarakatnya menyelenggarakan tradisi-tradisi kuno seperti Rebo Wekasan.

Dayeuhluhur adalah kecamatan paling barat dan utara di Kabupaten Cilacap, berbatasan langsung dengan Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, dan Kabupaten Kuningan di Jawa Barat. Keunikan utamanya terletak pada demografi budayanya.

Mayoritas penduduk Dayeuhluhur adalah etnis Sunda yang menggunakan bahasa Sunda murni dengan dialek khas perbatasan yang punya banyak kosakata kuno atau relik serta bentuk kata yang tidak ada lagi di Priangan. Adat istiadat, gaya bangunan rumah, hingga kesenian tradisionalnya seperti Ronggeng dan Calung sangat identik dengan budaya Jawa Barat.

Secara geografis, Dayeuhluhur berada di kawasan pegunungan dan perbukitan yang hijau dan sejuk. Kondisi alam ini sangat mendukung kuatnya tradisi agraris masyarakat setempat, yang sangat menghormati alam melalui berbagai ritual "sedekah bumi".

Dalam penanggalan Hijriah maupun kalender Jawa/Sunda, Rebo Wekasan (atau Rabu Wekasan) adalah hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Dalam kepercayaan masyarakat tradisional, bulan Safar sering dianggap sebagai bulan yang "panas" atau bulan di mana berbagai penyakit dan marabahaya (bala) diturunkan ke bumi. Oleh karena itu, masyarakat menggelar ritual Rebo Wekasan sebagai bentuk tolak bala, menangkal kesialan, memohon keselamatan, dan bersyukur kepada Sang Pencipta.

Karena kuatnya akar budaya Sunda dan Islam yang berakulturasi di wilayah ini, tradisi Rebo Wekasan di Dayeuhluhur dijalankan dengan penuh kesahajaan dan rasa kekeluargaan (gotong royong). Jika kita berada di Dayeuhluhur pada hari tersebut, beberapa hal akan kita temui.

Salah satu peringatan paling khas menjelang Rebo Wekasan adalah kesibukan kaum ibu dan bapak menganyam janur kuning untuk membuat ketupat. Ketupat atau kupat dalam filosofi lokal sering diartikan sebagai ngaku lepat (mengakui kesalahan). Makan ketupat bersama adalah simbol saling memaafkan dan membersihkan diri dari dosa agar terhindar dari bencana.

Pada pagi atau malam hari sebelum Rebo Wekasan, warga akan berkumpul di masjid, musala, atau lapangan desa. Pemuka agama (Kiai atau Ajengan) akan memimpin selawatan, zikir, dan doa khusus tolak bala. Di beberapa desa yang masih memegang teguh tradisi leluhur, doa ini juga dipadukan dengan ritual ngaruwat, doa keselamatan yang ditujukan untuk menjaga keharmonisan alam, desa, dan para warganya.

Setelah doa tolak bala selesai, ketupat yang sudah dimasak bersama lauk pauk sederhana (seperti opor, sambal goreng, atau sekadar serundeng dan tahu-tempe) akan dimakan bersama-sama. Tradisi makan bersama yang kerap disebut botram ini selain menjadi ajang penangkal bala, juga medium untuk merekatkan silaturahmi antarwarga desa.

Di beberapa sumber mata air atau aliran sungai yang bersih di Dayeuhluhur, sebagian masyarakat, terutama orang tua, memandikan anak-anak mereka dengan niat membersihkan diri dari penyakit. Air dalam filosofi Sunda merupakan sumber kehidupan yang meluruhkan segala kotoran, baik fisik maupun spiritual.

Bagi masyarakat Dayeuhluhur, Rebo Wekasan bukan mitos atau ketakutan akan marabahaya. Ini adalah momen pengingat untuk merendahkan hati (ngaku lepat), memperkuat solidaritas tetangga, dan memanjatkan doa kepada Tuhan, semua dibalut apik dalam kearifan lokal Sunda yang lestari di ujung barat Jawa Tengah.