Menunggu Susu Stroberi

Dunia menciut menjadi selembar karpet tua yang digelar di atas trotoar, dan anakku duduk di tengahnya seperti ratu kecil yang baru mendarat dari kerajaan yang hanya bisa dicapai lewat mimpi. 

Kegelapan di sekelilingnya begitu pekat hingga pepohonan dan rumah-rumah tampak menahan napas, sementara sebuah bendera kecil berkibar pelan di kejauhan seperti luka yang belum sembuh benar, disinari lampu sepeda motor yang lewat bagai mata naga yang tak pernah benar-benar tidur.

Dan di antara semua itu Iliana duduk bersila dengan lutut kotor oleh debu dan permainan yang telah ia menangkan sendirian, menatapku dengan ketenangan seseorang yang tahu dirinya adalah pusat dari segala yang sedang terjadi. Aku pun mengerti, seperti selalu ku mengerti pada akhirnya, bahwa selama anakku ada di situ, malam boleh sepekat apa pun juga, dunia ini tak akan pernah benar-benar gelap.