Senja itu, aku berdiri di antara rerumputan yang mulai gelap. Di hadapanku, gunung tampak seperti raksasa tua yang sedang diam-diam menyimpan rahasia. Aku tak tahu mengapa pemandangan itu membuatku ingin pulang, padahal aku bahkan belum pergi ke mana-mana.
Langit perlahan berubah warna, dari biru menjadi jingga, lalu hampir hitam. Burung-burung pulang tanpa banyak suara, sementara angin memainkan daun-daun seperti anak kecil yang tak tahu bahwa hari sudah malam. Aku tersenyum sendiri, sebab rupanya alam punya cara sederhana untuk mengingatkanku bahwa waktu tak pernah mau menunggu.
Aku kemudian sadar, mungkin hidup memang seperti senja. Ia tidak selalu datang dengan gemuruh atau peristiwa besar. Kadang ia hanya menawarkan cahaya sebentar, cukup untuk membuat kita berhenti, memandang jauh, lalu berkata dalam hati, ternyata aku masih punya alasan untuk bersyukur.