Pesawat

Petang itu, mataku terpaku pada langit kelabu yang melukiskan rupa. Dari balik gumpalan awan yang murung, seekor burung besi melintas dengan angkuh. Perutnya memancarkan pendar keemasan, seolah ia baru saja menelan serpihan matahari sore yang enggan tenggelam.

Bagiku, pesawat itu bukan sekadar rongsokan logam dingin bertenaga jet. Ia adalah sebuah kotak ajaib yang mengangkut ribuan nasib dan cerita; tentang kerinduan seorang perantau pada kampung halamannya, atau doa-doa panjang dari para pemimpi yang sedang bertaruh nasib di negeri seberang.

Titik cahaya itu perlahan meredup, lalu lenyap sepenuhnya ditelan pelukan awan. Ada sepi yang merayap turun ke tanah, namun di saat yang sama, dadaku bergemuruh oleh sebuah janji. Kelak, keterbatasan ini tak akan menahanku untuk ikut melesat naik, menembus awan tebal dan menjemput takdirku sendiri.