Hari pertama aku bertemu Iliana setelah lebih dari empat puluh lima hari, terasa seperti sebuah mukjizat kecil yang diam-diam disimpan waktu. Ia berdiri di samping motor merah muda, menatapku dengan senyum yang begitu mirip dengan senyummu, seolah Subang telah mengirimkan secarik dirimu pulang melalui mata anak kita.
Aku mengangkatnya, dan dunia yang selama ini terasa terlalu luas mendadak mengecil hingga hanya cukup untuk pelukan itu. Namun di sela tawanya, ada ruang yang tetap kosong. Rindu ternyata makhluk yang aneh, ia dapat dipeluk oleh seorang anak, tetapi tetap mencari ibunya yang sedang jauh di sana.
Maka hari ini aku pulang dengan dua perasaan yang berjalan berdampingan. Bahagia karena akhirnya dapat menggenggam tangan Iliana lagi, dan rindu yang semakin matang kepadamu. Sebab keluarga, seperti langit setelah hujan, selalu tampak utuh dari kejauhan, padahal di dalamnya setiap awan sedang menunggu satu nama untuk kembali: namamu.