Rindu (lagi) Empat Puluh Tujuh

Aku melihat Iliana berlari melintasi halaman dengan langkah-langkah kecil yang terdengar lebih nyaring daripada detak waktu. Sudah lebih dari empat puluh lima hari aku tak menyaksikan punggung mungil itu mengejar dunia. Saat itu aku mengerti, rumah bukanlah tembok atau pagar putih yang mengelilinginya, melainkan anak yang berlari di dalamnya dan ibu yang sedang dirindukannya dari jauh, di Subang.

Aku ingin memanggil namamu agar angin membawanya sampai ke tempatmu. Sebab setiap tawa Iliana selalu lahir dari dua orang yang saling mencintai, dan hari ini separuh dari tawa itu sedang menempuh jarak yang tak bisa kusingkat dengan doa.

Maka kubiarkan ia terus berlari, sementara aku berdiri memungut kebahagiaan yang tercecer di setiap jejak kakinya. Rindu kepadamu tidak berkurang karena bertemu Iliana. Justru ia menjelma lebih utuh, sebab kini aku tahu, cinta selalu pulang lebih dulu kepada anak-anak, sebelum akhirnya menemukan jalan kembali kepadamu.